Selalu ada risiko-risiko yang bermunculan saat menjalankan bisnis. Itulah sebabnya salah satu sikap dari pebisnis adalah sikap yang tak takut mengambil risiko. Mempelajari peluang bisnis franchise juga sangat penting sebelum memutuskan investasi apa yang nggak ada matinya.

Berdasarkan data, Indonesia merupakan salah negara dengan jumlah sekitar 207 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2020 generasi milenial akan lebih mendominasi. So, Pebisnis bidang apa pun harus mampu memikirkan bagaimana caranya supaya bisa meminimalisir terjadinya risiko buruk dalam usaha yang Ayah Bunda jalankan.

Nah, dari sekian risiko bisnis yang ada, risiko dalam hal keuangan menjadi suatu hal yang butuh diperhatikan supaya tidak terjadi kerugian pada bisnis tersebut.

Untuk itulah dibutuhkan pengelolaan keuangan yang baik dan benar di suatu bisnis, khususnya bisnis kecil. Namun apakah Ayah Bunda yakin kalo bisnis Bunda Esti Baby Spa ini termasuk bisnis kecil?

Sayangnya, tidak semua pebisnis benar-benar memiliki dasar yang kuat dan berjiwa besar dalam hal keuangan dan bisnis. Inilah mengapa sebagian besar orang beranggapan bahwa bisnis Baby Spa adalah bisnis skala kecil.

Apalagi jika Ayah Bunda masih di masa awal memulai bisnis, biasanya mereka akan cenderung lebih fokus dalam hal-hal lain seperti bagaimana cara mengembangkan usaha hingga bagaimana cara melayani para pelanggan dengan benar ketimbang urusan mengontrol keuangan.

Mengontrol keuangan adalah kunci bisnis sukses dan berkembang hingga bertahun-tahun mendatang. Pasalnya bisnis adalah kompetisi dan branding, dimana Ayah Bunda akan bersaing dengan pebisnis skala kecil lainnya, hal ini bukan tidak mungkin mereka jadi besar.

1. Bisnis yang Tidak memiliki target yang jelas & kurang Modal

Memiliki target yang jelas juga dibutuhkan dalam menjalankan bisnis, lho! Modal juga sudah pasti jadi acuan pertama dalam memulai bisnis. Maka dari itu cobalah Ayah Bunda mulai tentukan target usaha dengan jelas, baik target jangka pendek (1-3 tahun), jangka menengah (4-6 tahun), maupun jangka panjang (7-10 tahun), seperti halnya Bunda Esti Baby Spa. Target bisnisnya siap bisa lebih dari 10 tahun ke depan.

2. Tidak berpikir jauh ke depan

Salah satu kesalahan umum yang dilakukan pebisnis dalam hal keuangan adalah tidak berpikir ke depan sehingga tidak mengontrol pengeluarannya. Hal seperti ini biasanya terjadi saat bisnis tersebut sedang mendapat banyak keuntungan, sehingga si pebisnis menggunakan uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi sebanyak mungkin kebutuhan.

Sayangnya, mereka kemudian lupa bahwa bisnis tidak selamanya lancar dan permasalahan bisa terjadi kapan saja. Permasalahan-permasalahan tersebut terjadi misalnya karena ternyata tiba-tiba jumlah pelanggan menurun sehingga pendapatan juga tidak seberapa.

Nah, karena para pebisnis tersebut sebelumnya sudah terlanjur menghabiskan banyak uang dan tidak menyimpan untuk masa-masa seperti ini, tentu saja di saat sulit mereka pun akan bingung dengan apa yang harus dilakukan, bukan?

Maka dari itu sangat disarankan bagi para pebisnis untuk tetap mengontrol pengeluarannya bahkan meskipun bisnis sedang untung-untungnya.

Jangan lupa juga untuk tetap menyimpan cadangan supaya apabila mendadak bisnis mengalami masa sulit, bisnis tetap bisa dijalankan dengan baik dengan bantuan uang cadangan yang diperoleh dari masa untung sebelumnya.

3. Tidak menghitung harga produk jual dengan benar

Kesalahan selanjutnya adalah tidak memperhitungkan harga produk jual dengan benar.

Hal seperti ini bisa mendatangkan kerugian yang bisa mencapai tidak hanya puluhan namun bahkan jutaan rupiah jika dibiarkan secara terus menerus.

Maka dari itu, perhitungkan penetapan harga dan segala sesuatunya dengan matang, setidaknya tetapkan harga jual sekitar 30% hinggal 100% dari harga modal. Bisnis besar berawal dari satu bisnis yang dirawat dan dibesarkan, seperti halnya anak. Bunda Esti Baby Spa fokus dengan tumbuh kembang anak, dimana perawatan anak begitu penting untuk menarik dikembangkan dan memang semua anak membutuhkannya.

10 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini